Masih Ingat Ponari “Si Dukun Cilik”? Begini Keadaannya Sekarang

02-00

Beberapa tahun yang lalu, masyarakat tanah air pasti sudah akrab dengan nama Ponari. Bocah tersebut berasal dari Dusun Kedungsari, Balungsari, Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Dia membuat kehebohan pada tahun 2009.

Ponari ketika itu masih SD. Dia mendapatkan batu yang diduga berasal dari langit saat ia main hujan-hujanan. Pada saat itu, menurut Ponari, bersamaan suara petir yang menggelegar, kepalanya seperti dilempar benda keras. Sejurus kemudian, batu petir tersebut membuatnya terkenal sehingga dia dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Setiap hari, banyak orang yang mendatanginya dan memintanya mencelupkan air ke dalam batu supaya orang yang sedang sakit bisa segera sembuh karena meminum air hasil celupan batunya. Dia dikenal sebagai “Dukun Cilik.”

Ponari berasal dari keluarga yang kurang mampu dan hidupnya berubah drastis hasil pemberian orang-orang yang minta disembuhkan. Uang miliaran rupiah berhasil dikumpulkan oleh Ponari. Dia membelikan sawah untuk keluarganya beserta rumah yang terbilang mewah di desanya.

Dikutip Radarislam.com dari laman Liputan6.com, bahwa kini Ponari kondisinya sudah tidak sama seperti dahulu kala. Dia sekarang tak  melayani banyak pasien karena yang datang ke rumahnya hanya sedikit untuk berobat. Hanya satu dua orang saja yang datang per harinya. Bahkan kadang tidak ada sama sekali.

02-02

 

Loading...

Pendapatannya yang dulu mencapai miliaran rupiah turun drastis. Minat orang mendatangi Ponari  menurun sejak tahun 2013 yang lalu. Banyak yang berpikir batu itu sudah tidak lagi manjur untuk menyembuhkan.

Mukaromah, bunda Ponari sendiri tidak tahu berapa persisnya uang yang dihasilkan dari praktiknya dulu. Dia mempasrahkan semuanya pada saudara dan keluarganya untuk menabungkan penghasilan Ponari di bank.

Menurut dia, uang yang jumlahnya fantastis bagi orang kampung itu kini telah habis. Kondisi ekonomi keluarganya pun kembali seperti semula. Ibu dua anak ini mengeluhkan biaya sekolah Ponari yang tergolong mahal. Padahal biaya ujian akhir semester itu hanya Rp 250.000. Bahkan, untuk melahirkan putra ke duanya Juli 2014, dia kalang kabut mengurus BPJS Kesehatan kelas 3.
.

Keluarga Ponari kini hanya hidup bergantung dari sawah yang dahulu dibelinya. Sawah itu sebagian diolah dan sebagian disewakan. Sementara Ponari sejak pasien mulai sepi, kini Ponari lebih fokus untuk sekolah. Putra pertamanya itu kembali meneruskan pendidikan yang sempat tertunda 3 tahun lamanya.

Dari kisah Ponari bisa kita ambil pelajaran bahwa sukses yang datang secara instan, hilangnya juga bisa instan. [Radar Islam/ Liputan6]

.inline-sosial { float: left; margin-bottom: 13px; width: 100%; padding: 8px 0; border-top: 1px solid #EAEAEA; border-bottom: 1px solid #EAEAEA;} .inline-sosial .inline-arrowbox {margin-right:15px; float: left; background: #f7931e; font-size: 15px!important; padding: 4px 10px; color: #fff!important;} .inline-arrowbox::after {position: absolute; width: 0; height: 0; top: 4px; left: 103px; border-top: 0 solid #f7931e; border-bottom: 24px solid transparent; border-right: 23px solid #f7931e; -ms-transform: rotate(45deg); -webkit-transform: rotate(45deg); transform: rotate(45deg);}


loading...
Loading...