Cerita Ibu Naik Angkutan Sambil Gendong Bayi, Sikap Penumpang Tak Mengenakkan Saat Lihat Bajunya

Ibu ini menceritakan kisahnya saat menaikki angkutan umum.

Dia mendapat respon tidak mengenakkan dari penumpang lain.

Bukan soal tempat duduk.

Saat naik angkutan Light rail Transit (LRT) dirinya sambil menggendong anak menggunakan kain lusuh.

Pun dengan pakaiannya.

Hal itu seperti dilansir dari Mynewshub, diposting di akun Facebook Nuraliza Ramli.

Sebenarnya, penumpang prioritas memang sepatutnya didahulukan.

Prioritas harus diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan, terutama ketika menggunakan layanan publik.

Tapi rupanya, masih ada saja masyarakat yang kurang memiliki kesadaran akan hal tersebut.

Nuraliza Ramli menceritakan kembali kejadian itu kemarin mengatakan, dia naik LRT dari Wangsa Maju ke Ampang Park bersama bayi dan anak sulungnya bernama Ryan untuk berolahraga.

Dia terpaksa berdiri sambil menggendong bayinya ketika tidak ada seorang pun penumpang di dalam tren yang memperdulikannya.

“U know what, tangan gemetar nak ambil video. Diorang tak ada perasaan, I dukung baby kot dari Wangsa Maju sampaisampai Ampang Park, tak ada seorang ada perasaan, “tulisnya.

Video yang diposting di akun media sosialnya mendapat like sampai 6.950 dan dilihat 492.000 kali.

Dalam tulisannya itu, Nuraliza mengaku tidak berharap ada orang yang memberinya tempat duduk, tapi lebih kepada sikap para penumpang di dalam tren tersebut.

“Saya bukan la hadap nak duduk, kalau ada tempat duduk saya duduk, bukan jauh pun Wangsa Maju ke KLCC. Saya cuma ingin prihatin, lihat sekeliling, lihat apa jadi di lingkungan Anda.

“Saya mulai merekam sebab saat itu dirugikan karena ada sikap penting diri sendiri. Saya ingatkan kat luar sana gembar gemborkan cerita sehingga terkena batang hidung sendiri, “katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa, mungkin sikap penumpang seperti itu karena menganggapnya sebagai orang asing.

Sebab, saat itu dirinya hanya menggendong anak menggunakan kain lusuh serta memakai baju hitam yang lusuh.

Dengan memposting video tersebut, dia berharap hal tersebut bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat banyak.

Statusnya mendapat berbagai reaksi dari netizen dan ada diantaranya menganggap masyarakat di wilayahnya semakin tidak peduli dan mementingkan diri sendiri.

Bahkan, ada juga yang turut berbagi pengalaman ketika berhadapan dengan situasi yang sama.

Kisah Ibu Muda Berbadan Dua Dapat Tempat Duduk di Kereta, Ada Yang Pura-pura Tidur Hingga Joki Duduk

Tidak mudah mendapat simpati dari Commuters bagi kaum prioritas, terutama wanita hamil untuk mendapat tempat duduk.

Menembus hiruk pikuk kesibukan pedagang di pintu masuk selasar Stasiun Bogor, pegawai perusahaan tambang, Rika Widiastuti (27), nampak tergesa pagi itu.

Lelaki paruh baya berjaket kulit yang mengendarai motor Honda Supra berwana hitam, jadi ‘transporter’ bagi perempuan yang tengah berbadan dua tersebut.

Jalannya sedikit cepat, tangannya sibuk membenarkan tiga bawaan yang merangkul kedua pundaknya.

Dokumen TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya

Rambut panjangnya masih tergerai basah.

KRL Commuter Line tujuan Sudirman Tanah Abang, pemberangkatan di jadwal pukul 06.05 WIB, yang dikejar.

“Saya terlambat, bisa berabe kalau ketinggalan kereta ini,” kata istri dari seorang buruh di wilayah Serpong, Tangerang Selatan itu.

Loading...

Napasnya terengah saat sampai di peron tiga Stasiun Bogor, kereta yang diincarnya belum masuk ke jalur pagi itu.

Namun, bukan hanya Rika yang menunggu, puluhan atau mungkin ratusan penumpang lainnya sudah ikut berdiri di peron yang sama, juga menunggu kereta yang sama pula tentunya.

“Setiap hari kaya gini, kalau tidak buru-buru masuk, suka susah dapat duduk, lumayan kan berdiri dari Bogor ke Sudirman,” ujarnya saat menunggu kereta.

Sambil menunggu kereta yang masih berada di Stasiun Bojonggede itu, pegawai yang sudah tiga tahun mengabdi di perusahaannya itu, berbagi sedikit cerita soal pengalaman menjadi Commuters, terutama dalam lima bulan terakhir ini.

Dokumen TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya

Menurutnya, ada banyak cara yang dilakukan dirinya dan sebagian besar penumpang untuk mendapat tempat duduk.

“Ada yang sengaja naik dari Bojonggede ikut dulu ke Bogor, makanya kalau di Bogor kadang pasti penuh,” katanya.

Keberadaan tempat duduk prioritas di setiap gerbong dan dua gerbong khusus wanita, belum bisa menjamin wanita ini bisa mendapat tempat duduk.

Sambil sibuk memeriksa dua goodybag, berisi tempat makan dan sepatu high heels, kepalanya tidak berhenti melihat ke arah pintu kereta.

“Paling ngeselin banget itu, kalau ada lelaki yang duduk, tapi pura-pura tidur,” ujarnya.

Tapi, kesadaran penumpang soal simpati pada kaum prioritas ini, dinilai sudah sedikit meningkat.

Selalu ada saja penumpang yang menegur penumpang lain yang duduk di hadapan kaum prioritas.

“Ada petugas juga sih biasanya yang ngarahin, tapi kalau memang tidak ada dan lagi penuh banget, itu kita saja yang inisiatif, misalnya kaya ngegangguin kakinya orang duduk itu pakai dengkul kita, niatnya supaya dia risih gitu,” terangnya sambil sedikit tertawa.

Ada pula duduk bergantian, itu dilakukan oleh kebanyakan Commuters yang sudah saling kenal.

“Misal saya duduk sampai Pasar Minggu, nanti gantian sama teman yang berdiri,” katanya.

Beruntung, bagi Commuters yang tergabung ke dalam komunitas.

Sekelompok penumpang beda pekerjaan ini, akrab karena sering bertemu di dalam kereta.

Dokumen TribunnewsBogor.com/Ardhi Sanjaya

Biasanya, kata Rika, komunitas ini kebanyakan dari Cilebut, Bojonggede dan Citayam yang bekerja di Tanah Abang.

Di jam tertentu, beberapa tempat duduk pilihan dikk pilihan dik
uasi oleh kelompok ini, dengan berbagai cara.

“Kalau digerbong satu itu dengan jadwal kereta 06.05 ini bilang komunitas 165, tiap gerbong pasti ada,” ujarnya.

Cara lain yang sedikit rumit dan membutuhkan link kuat untuk mendapat tempat duduk, yakni dengan membayar seorang joki.

Dengan membayar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu, joki ini akan memberi tempat duduk sesuai permintaan.

“Kalau sekarang tidak tahu deh masih ada apa tidak, sudah jarang lihat juga orangnya,” katanya.

Kurang dari 10 menit menunggu, kereta yang ditunggu datang.

Tas yang ditaruh dekat kaki kembali diangkat, langkahnya maju menuju bibir peron.

Ancang-ancang matang, tiga sampai empat orang sudah membentuk barisan di belakang badannya.

Saat kereta datang, pintu dibuka, tanpa menunggu penumpang turun, Commuters pun langsung merangsek masuk.

Saling mendorong dan berlari demi mendapat tempat duduk.

“Saya sih ngandelin saja, kalau tidak dapat yah mungkin saya lagi tidak beruntung,” kata Rika.

Sumber:tribunnews.com


loading...
Loading...