22 Tahun: Selasa 22/11/2016-Selasa 22/11/1994

SELASA hari ini, 22 November 2016, bertepatan dengan kejadian 22 tahun lalu, yang hari, tanggal dan bulannya sama: Selasa 22 November 2016.

Hari itu, siang sekitar pukul 10.00, tanpa diketahui banyak warga Kota Yogyakarta, Gunung Merapi di utara Yogyakarta meletus.

Pun tak ada pemberitaan media sebelumnya tentang tanda-tanda aktivitas gunungapi ini akan meletus.

Akibat letusan, sekitar 60 orang warga Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, DIY, tewas, terkena awan panas (wedhus gembel, pyroclastic flow).

Sejumlah warga selamat yang mengalami luka bakar membutuhkan waktu hampir setahun untuk penyembuhan.

Para korban saat itu tengah berkumpul di salah satu rumah warga menyiapkan perhelatan pernikahan di rumah tersebut.

Tiba-tiba, demikian kesaksian warga dusun di barat Kaliurang itu, terdengar bunyi pepohonan bergemeretak.

Tanpa mereka sadari bencana menyergap. Awan panas menyapu mereka.

Awan panas ini meluncur dari puncak ke sisi baratdaya lalu bergerak ke selatan menyusuri Kali Boyong yang berada tepat di sepanjang tepi timur dusun.

Cerita warga, awan panas yang tengah meluncur ke selatan di lorong jurang Kali Boyong  tiba-tiba berbalik terembus angin, berbelok, lalu “memanjat” tebing barat menyapu sisi timur dusun.

Awan panas pun tak hanya menyapu sebagian dusun. Lereng timur Bukit Turgo yang terletak di belakang dusun juga luluh lantak.

Sejak letusan ini pula Pos Pengamatan Gunung Merapi di puncak Bukit Plawangan, Kaliurang, ditutup permanen setelah 40 tahun berdiri sejak 1954.

Selasa (22/11/94) sore itu empat petugas pos pengamatan Plawangan, Panut, Suramto, Sunarto, Sugiyoto, diperintahkan meninggalkan pos.

Mereka pindah tempat kegiatan pengamatan ke dusun Kaliurang Barat. Saat itu, rumah Panut, dijadikan pos pengamatan darurat.

 

1. Orang yang Beruntung

Ilustrasi

PERISTIWA Selasa siang 22 November 22 tahun silam itu tentu sangat membekas bagi sebagian warga Dusun Turgo dan empat petugas pos pengamatan Merapi di Plawangan.

Termasuk, bagi saya yang waktu itu menjadi wartawan Bernas (surat kabar harian di Yogyakarta, kini bekas kantornya menjadi kantor Tribun Jogja).

Berbeda dengan peristiwa sejumlah letusan Merapi pasca-1994 yang terpantau media/wartawan, terlebih lagi jelang dan saat letusan besar 2010 yang dipantau dari hari ke hari, jam ke jam oleh media cetak, media elektronik (radio dan televisi), media online dan netizen, bencana 22 November 1994 bisa dikatakan di luar antisipasi media.

Saya, saat itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya wartawan yang “beruntung”.

Pertama, saya merasa beruntung karena bisa merekam/memotret kondisi Merapi meletus dari jarak cukup dekat (meskipun terlambat hampir dua jam), yaitu dari Pos Plawangan.

Kemudian mengabarkannya ke khalayak pembaca koran saya. Keesokannya, foto Merapi meletus itu  disebarluaskan kantor berita internasional AFP dan Reuter.

Kini, era telekomunikasi telah sangat jauh berbeda. Tak perlu sampai sehari untuk mengirim berita ke khalayak.

Hampir semua jurnalis dan netizen bisa melaporkan kejadian, teks maupun gambar sangat cepat, bahkan secara real time dan di-update dari menit ke menit.

Kedua, saya bersyukur mendapati empat petugas pos Plawangan selamat dan merekam dedikasi mereka hingga akhir tugas di pos itu.

Ketiga, saya selamat kembali ke kantor dengan membawa 2 rol film ( 1 film warna, 1 film hitam putih).

Film itu berisi rekaman situasi di Kali Boyong yang telah dipenuhi material letusan, suasana tempat wisata Kaliurang yang mirip kota mati, capture awan panas yang masih bergumpal-gumpal dari puncak Merapi, dan aktivitas terakhir empat petugas Pos Plawangan.

“Keberuntungan” itu saya peroleh berbekal informasi yang sangat minim dan tak adanya alat telekomunikasi mobile pada saya (handphone baru segelintir orang yang punya, jangan lagi smartphone).

 

2. Bermodal Nyali Mendekat ke Merapi

SIANG itu, ketika baru saja sampai di kantor redaksi saya dihampiri Sekretaris Redaksi.

“Ded, Merapi meletus,” katanya. Hanya itu informasinya.

Tentang seperti apa, ke arah mana dan di sisi mana letusannya dia mengaku tak memiliki informasi.

Dia memberi tahu saya karena tahu bahwa saya cukup kerap meliput Merapi.

Saya mencoba menelepon kantor PGM (Pengamatan Gunung Merapi, saat ini BPPTK).

Yang terdengar hanya nada sibuk. Saya menelepon Pos Pengamatan Plawangan. Sama. Nada sibuk yang terdengar.

Keputusan saya: langsung ke Kaliurang. Tak ada atasan yang bisa saya lapori, karena mereka belum datang.

Terpaksa saya harus naik kendaraan umum Yogya-Kaliurang, karena mobil kantor sedang dipakai liputan ke tempat lain.

Tak masalah. Apalagi terminal angkutan trayek ini tak jauh dari kantor.

Di angkutan umum menuju Kaliurang saya tidak mendapat informasi memadai. Menurut pengemudi, letusan Merapi ini menghantam Dusun Turgo.

Loading...

Tambahannya, warga Kaliurang sudah mengungsi. Itu saja.

Di sepanjang perjalanan saya memperhatikan terus arah utara, yaitu posisi Merapi.

Tak seperti biasanya, kali ini Merapi tak terlihat, padahal hari cerah. Maka informasi visual tak saya dapatkan.

Sampai di pertigaan Wara-Kaliurang jalan sudah diblokade dengan palang bambu.

Ada dua atau tiga petugas berjaga di situ. Dari mereka saya dapat informasi dan konfirmasi bahwa benar Dusun Turgo yang terkena amukan letusan.

Berbekal secuwil informasi itu, dan tak ada lagi orang yang bisa ditanyai, saya jalan kaki ke barat Kaliurang.

Tujuan ke Dusun Turgo menyeberang Kali Boyong. Saya sudah hapal jalur ini.

Tapi, begitu sampai di Kali Boyong, yang saya hadapi adalah hamparan material letusan yang masih berapi dan mengepul di sana-sini. Saya urungkan menyeberang.

Tak ada pilihan bagi saya kecuali naik ke bukit Plawangan.

Itu artinya saya harus balik ke timur kemudian berjalan lagi sekitar dua kilometer dilanjutkan mendaki bukit Plawangan sekitar setengah jam.

Masalahnya, saat itu kondisi puncak Plawangan tidak saya ketahui.

Saya hanya tahu bahwa saat itu sisi selatan Plawangan, yaitu kawasan wisata Kaliurang aman, tak ada abu vulkanis terlihat di sini, kecuali di sisi barat di tepi Kali Boyong.

Saya perlu informasi pasti. Saya ke Kantor Telepon Kaliurang. Mencoba menelepon Pos Plawangan. Lagi-lagi, yang terdengar nada sibuk.

Memang tak ada pilihan untuk pertimbangan, kecuali memutuskan untuk naik ke Plawangan.

Masalah “sepele” tapi penting, muncul. Saya tak membawa perbekalan minum. Saat itu saya berpikir kemungkinan di Tlaga Putri masih ada warung buka.

Ternyata, Tlaga Putri, walaupun tak terimbas bencana, bagai kota mati.

“Beruntunglah” saya mendapati botol air kemasan berisi seperempatnya tergolek  di jalan dekat lapak buah.

Saya periksa dan saya yakin air ini masih aman diminum, lalu saya bawa sebagai bekal mendaki.

Kurang dari sejam mendaki, saya sampai di pintu masuk area Pos Pengamatan Merapi Plawangan (1.267 mdpl).

Saya lihat kondisi vegetasi sekitar masih utuh, tidak terdampak letusan. Kemudian saya berteriak memanggil untuk mengecek apakah ada orang di Pos.

Saya bersyukur, teriakan saya berbalas. Bahkan orang yang membalas teriakan saya memanggil nama saya (saya beberapa kali ke pos ini, sehingga di antara petugas pos pengamat ada yang mengenali suara saya).

Dan lebih penting dari itu, saya jadi tahu bahwa mereka, para petugas pos pengamat Gunung Merapi ini selamat.

Begitu sampai pos, Panut, Sunarto, Suramto dan Sugiyono menyambut saya.

Kami berbagi cerita, saya mencari tahu apa yang terjadi. Saya melihat, meski mereka masih bisa tertawa, ada kekhawatiran di wajah mereka tentang keselamatan diri mereka.

Betapa tidak, mereka berada pada posisi paling dekat ke Merapi, sementara orang-orang di bawah sana sudah mengungsi.

Kekhawatiran itu manusiawi. Apalagi, menurut Panut, saat awal-awal letusan sempat terjadi  hembusan gas menghantam kaca rumah pos pengamatan hingga pecah.

Mereka pun, walau akrab dengan Merapi, mengaku tetap takut.

 

3. Perintah Meninggalkan Pos Plawangan

DI tengah-tengah saya memotret letusan dan aktivitas petugas pos,  saya mendengar dari radio komunikasi seseorang di kantor PGM Yogyakarta memerintahkan keempat petugas pos pengamatan Merapi Plawangan itu turun meninggalkan pos.

Kemudian mereka diminta membuat pos darurat dis darurat dibawah.

Menjelang Ashar, keempat petugas pos Plawangan ini, dan saya, turun.

Sebelum kami meninggalkan pos saya memotret mereka berlatar belakang Merapi yang masih meluncurkan gumpalan-gumpalan awan panas.

Inilah saat terakhir mereka bertugas di Pos Plawangan. Dan sejak saat itu juga Pos Plawangan berakhir masa tugasnya.

Beriringan kami menuruni jalan setapak bukit Plawangan menuju Kaliurang. Saya berpisah di Kaliurang.

Setelah berjalan sekitar satu kilometer saya bertemu dengan rekan wartawan Jawa Pos, dan saya mendapat tumpangan sepeda motor kembali ke Yogyakarta.

Ke kantor. Mencetak foto, lalu menyerahkan foto-fotonya ke Redaktur Pelaksana. Teman lain menyerahkan foto-foto yang mereka dapatkan di rumah sakit.

Sepanjang perjalanan pulang, berulang kali saya menengok ke belakang.

Melihat barangkali Merapi terlihat. Hingga sampai di Yogyakarta, Merapi tetap tak tampak.

Padahal di sana, tadi, gunungapi aktif ini menampakkan diri dengan kegarangannya.

Sebagian wajah garang itu telah saya rekam dan simpan hingga hari ini, 22 tahun kemudian. (*)    tribunnews.com


loading...
Loading...