Lima Kisah Perjuangan Guru Cerdaskan Anak-Anak, Ada Yang Sampai Harus Bertaruh Nyawa

 

Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sosok guru memang sangat berbpengaru terhadap kemajuan bangsa ini.

Para calon pemimpin bangsa ini ditempa dan diasuh oleh para guru yang tak kenal pamrih.

Namun, jasa besar dan perjuangannya kadang suka tak seimbang dengan apa yang mereka dapatkan.

Banyak guru-guru diluar sana yang harus terbentur dengan kerasnya kehidupan, tapi di sisi lain mereka tetap semangat untuk mencerdaskan anak-anak.

Berikut lima kisah guru yang tetap semangat mengabdi ditengah keterbatasan mereka

1. Berenang Sebrangi Lautan

Guru

Sebuah video yang memperlihatkan perjuangan seorang guru menjadi viral di media sosial

Dalam video itu, terkihat seorang pria yang berenang sambil mengangkat satu tangan yang memegang tas hitam.

Berikut ini cerita yang dituliskan dalam kolom keterangan :

PERJUANGAN PAK GURU Berenang di lautan

Sebuah pemandangan yang tentu tidak biasa bagi kita, menyaksikan seorang guru harus berenang di lautan untuk mengajar menemui murid- muridnya.

Tapi.. begitulah adanya..

Dalam sebuah perjalanan laut di Nusa Tenggara Timur, seorang Bapak meminta izin menumpang perahu yang sengaja kami sewa.

Tentu saja kami tidak keberatan dan mempersilahkan beliau menumpang.

Hingga perahu kami mendekat ke suatu pantai, sang Bapak mohon diri untuk turun dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan.

Beliau pun berenang ke tepi pantai yang jaraknya masih jauh sambil berusaha mengangkat tasnya ke atas agar tidak basah.

Kami baru menyadari, tidak banyak bahkan sangat jarang di daerah kepulauan ini dimana mayoritas penduduknya adalah nelayan yang memiliki tas seperti yang beliau bawa.

Kami bertanya- tanya.. siapakah beliau?

“Bapak itu guru.. pulang mengajar” kata seseorang di sebelahku.

Ya Allah, luar biasa perjuangan guru- guru di sini…

Bagaimana dengan anak – anak usia sekolah di sini?

Kisah Muhammad, salah seorang anak Pulau Pura mungkin bisa menjadi gambaran bagi Ibu dan Bapak, yg kami kisahkan

Seperti itulah kisah yang dituliskan.

 

2. Guru Mengajar Sambil Gendong Suami

Guru gendongsuami

Seorang guru les Bahasa Inggris bernama Ganeshayu Roesmayantii, rela menggendong suaminya yang menderita sakit berat.

Kisah itu diunggah oleh pemilik Facebook, Facebook Icha Rie Sa.

berikut kisahnya:
sahabatku sewaktu kuliah di Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), dia adalah wanita yang selalu ceria, hampir tidak pernah aku mendengar dia mengeluh, bahkan sampai tadi pagi pun dia bercerita tentang derita yang menimpa suaminya tutur bicara masih menampakan ketegaran.
Kilas balik, dia bercerita setahun yang lalu (2015) hampir bersamaan dengan kelahiran putra pertamanya yang lucu dan sehat di waktu yang hampir bersamaan suami nya mengeluhkan rasa sakit yang teramat sangat. Setelah melakukan pengecekan ke dokter juga sempat di rawat di Rumah Sakit Sentosa Bandung dan Rumah Sakit Rotinsulu Bandung, dokter menyatakan bahwa suaminya di vonis mengidap penyakit TBC (TB-Paru), maag akut yang menyebabkan malnutrisi berat, dyspepsia, juga dehidrasi. Sudah 1 tahun kondisi suaminya tidak ada perubahan bahkan semakin memburuk.
Untuk makan saja harus dihaluskan (diblender) terlebih dahulu lalu dimasukan melalui hidung dengan menggunakan selang karena mulutnya tertutup rapat sama sekali tidak bisa membuka. Selama pengobatan sejauh ini masih menggunakan BPJS akan tetapi ada juga biaya yang tidak ditanggung BPJS. Selain itu pengobatan pun dilakukan dengan cara pengobatan herbal juga dibantu dengan rukiyah syar’i.
Adapun suaminya saat ini sedang tidak bekerja akan tetapi sahabatku lah yang bekerja dan pekerjaan sahabatku ini adalah guru les Bahasa Inggris yang saat ini jumlah muridnya sangat sedikit sekali karena dia pun harus mengurus suaminya sehingga dia harus membatasi jumlah murid yang dia ajar.”

3. Sambil Mengajar, Guru ini Pegangi Payung

Guru pegangi payung

Loading...

Alasan guru itu memakai payung di dalam kelas cukup membuat miris.

Dalam beberapa hari ini, netizen cukup digegerkan dengan tersebarnya foto guru yang memakai payung saat memberi pelajaran.

Banyak netizen yang menjadikan foto ini sebagai bahan perdebatan.

Dilansir dari people.cn, ruangan bocor itu dilaporkan sebagai ruang kelas 126 untuk siswa kelas 8 di Shuozhou No. 1 Middle School di Provinsi Shanxi, Tiongkok.

Nama guru dalam foto yakni Zheng Liang. Dia becerita jika hujan lebat melanda kota pada 5 Oktober lalu.

Tapi setelah hujan berhenti, air merembes terus menetes ke dalam kelas.

Guru yang sedang mengajar harus tetap berada di dalam kelas, sambil memegang payung untuk berlindung.

Sedangkan murid terpaksa meringkuk bersama-sama untuk menjaga diri dari tetesan air.

 

4. Sebrangi Derasnya Sungai Untuk Mengajar

Guru

Setiap hari Miranda harus menantang maut dan mempertaruhkan nyawanya saat menyeberangi sungai.

Bukan hanya satu sungai saja, Dari rumah ke sekolah, Miranda menyeberangi lima sungai.

Cara menyeberangnya bukan menggunakan perahu, melainkan berenang.

Beruntung ketika Miranda bertemu seseorang yang membawa ban, dia bisa menyeberang dibantu itu.

Wanita ini berasal dari Filipina, Di Sitio Barogante, Occidental Mindoro.

Setiap sampai sekolah, kaki dan baju wanita ini selalu basah.

Ini bukan hanya sekedar candaan, tapi memang perjalanan yang ditempuhnya sangat jauh.

Selain berenang, wanita ini pun harus berjalan kaki selama dua jam.

 

5. Guru Rela Dibayar “Lilahitaala”


Guru memberikan arahan memasuki tahun ajaran baru sekolah kepada 11 murid kelas I di SD Negeri Lampageu, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Senin (27/7/2015). Menjelang Hari Guru, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengingatkan pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada guru, misalnya pengangkatan guru, termasuk guru yang selama ini berstatus honorer, untuk mengatasi kekurangan guru.

Ribuan guru di jenjang SD hingga SMA di Aceh Utara disebut sebagai guru berstatus “Lillahitaala”.

Sebutan itu telah umum dikenal dan merujuk kepada guru yang tidak memiliki gaji tetap per bulan.

Mereka hanya digaji per jam pelajaran yang diasuhnya.

Besaran gaji pun bervariasi dari Rp 7.000 per jam hingga Rp 15.000 per jam.

Uang untuk gaji itu dibayar dari biaya operasional sekolah.

“Benar ada ribuan guru dengan status itu di Aceh Utara,” ujar Kepala Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan Aceh Utara, Zulkarnaini, Rabu (25/11/2015).

“Dulu, ketika mereka masuk jadi guru memang ada perjanjian bahwa tidak ada gaji pokok dengan pihak sekolah,” sambung dia.

Zulkarnaini menyebut, untuk menambah pendapatan, para guru kerap mengadakan les tambahan.

“Untuk pengangkatan jadi pegawai kita usulkan formasi ke pemerintah pusat. Mereka bisa ikut tes seperti masyarakat umum lainnya,” ujar dia.

Sumber:tribunnews.com


loading...
Loading...