Kesaktian Sunan Kalijaga dan Munculnya Api Abadi Mrapen

01-00

Anda yang hobi jalan-jalan atau berwisata religi mungkin mengenal lokasi wisata unik ini. Api Abadi Mrapen yang berada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Api Abadi Mrapen merupakan fenomena geologi berupa api abadi, yang keluar dari perut bumi dan tidak pernah padam meski diguyur hujan.

asdd

(portalgrobogan.com)

Keunikan Mrapen membuatnya banyak dilirik orang sebagai tujuan wisata. Namun tak hanya api abadi, lokasi wisata ini juga memiliki hal menarik lain, yakni kolam air mendidih yang disebut Sendang Dudo, yang dipercaya dapat mengobati penyakit kulit dan reumatik.

Selain itu, ada juga keunikan lain yang Anda sendiri dapat mencobanya. Dari gelembung air yang mengambang, apabila disulut dengan api maka dapat menyala di atas permukaan air.

Adapula Watu Bobot yang letaknya berada di sebelah sumber Api Abadi Mrapen. Menurut cerita, konon siapapun yang dapat mengangkat batu tersebut maka akan tercapai keinginannya.

Berkat Kesaktian Sunan Kalijaga

Terlepas dari segala keunikannya, tempat wisata yang satu ini ternyata menyimpan cerita menarik tentang salah satu Wali Songo, Sunan Kalijaga.

Menurut cerita yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat setempat, keberadaan sumber Api Abadi Mrapen terkait dengan sejarah masa akhir Kerajaan Majapahit yang ditaklukkan Kesultanan Demak Bintoro pada tahun 1500-1518 Masehi.

Saat itu, Kesultanan Demak berada di sekitar Mrapen dan merupakan satu-satunya pusat pemerintahan Islam di Pulau Jawa.

asd

(kemenag.go.id)

Berikutnya, kesultanan yang dipimpin Raden Patah ini mengembangkan pola hidup yang berlandaskan ajaran Islam termasuk membuat pusat perdagangan, pendidikan dan penyebaran agama Islam.

Dalam upaya pembenahan wilayahnya, Kesultanan Demak berupaya memboyong semua barang-barang warisan dari Kerajaan Majapahit.

Salah satu yang terpenting adalah memindahkan Pendopo Kerajaan Majapahit untuk dijadikan serambi Masjid Agung Demak. Apabila Anda amati saat ini, maka pada serambi tersebut terlihat perpaduan budaya Islam dan Hindu-Buddha.

Upaya pemindahan Pendopo Kerajaan Majapahit tersebut dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan memasuki wilayah Kesultanan Demak Bintoro, rombongan ini mengalami masalah karena prajuritnya kelelahan.

Mereka kemudian mencari mata air untuk minum, tetapi tidak ada yang dapat menemukannya. Sunan Kalijaga pun kemudian berjalan menuju tempat kosong dan menancapkan tongkatnya ke tanah.

Lubang dari bekas tongkat itu tak lama menyemburkan api yang saat ini dipercaya merupakan titik awal munculnya sumber Api Abadi Mrapen.

Berikutnya, Sunan Kalijaga juga melakukan hal yang sama dengan tongkatnya di tempat lain yang tidak jauh. Namun yang keluar klai ini bukan api melainkan smeburan air yang bersih dan bening.

Air tersebut dimanfaatkan rombongan prajurit untuk minum. Saat ini, sumber mata air itu dapat Anda lihat memiliki celah sumur berdiameter 3 meter dan kedalaman sekitar 2 meter. Sumur itulah yang kemudian disebut masyarakat setempat dnegan nama Sendang Dudo.

Rombongan Sunan Kalijaga kemudian melanjutkan perjalanan. Tetapi, Sunan Kalijaga meninggalkan sebuah batu ompak di sekitaran lubang api dan lubang air tersebut.

Kala itu, salah seorang prajuritnya berupaya mengambil batu tersebut. Namun Sunan Kalijaga melarang dan berwasiat bahwa batu ompak itu tidak perlu diambil karena pada suatu waktu akan berguna.

Saat ini, Anda masih dapat melihat batu ompak itu yang dikenal dengan sebutan Watu Bobot. Percaya tak percaya begitulah cerita yang berkembang di masyarakat setempat.

Anda yang penasaran dengan lokasi wisata Api Abadi Mrapen, jangan ragu untuk mengunjunginya. Untuk menuju Kompleks Api Abadi Mrapen, patokannya terletak di tepi Jalan Raya Purwodadi Semarang, sekitar 26 km dari pusat Kota Purwodadi.


loading...
Loading...