Bukan Karena Disiksa, Perlakuan Majikannya Membuat TKW Ini ‘Menghilang’ Selama 19 Tahun

tki_20170114_120832

Salah satu keputusan warga Indonesia untuk bekerja di luar negeri adalah demi menghidupi keluarga.

Mereka berharap, dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), kehidupannya bisa menjadi lebih baik.

Tapi, kasus TKI yang satu ini membuat orang geleng-geleng kepala.

Dikutip dari grup Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah di Facebook, seorang TKI bernama Juariah Mastara akhirnya kembali ditemukan setelah 19 tahun dinyatakan menghilang.

TKI asal Blok Karang Moncol, Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu ini berhasil ditemukan oleh Tim Perlindungan WNI KJRI Jeddah di penghujung 2016 ini.

Ia ditemukan di Distrik Al-Qaim di daerah Taif, Arab Saudi, yang berjarak sekitar 200 km dari KJRI Jeddah.

“Juariah dijemput pihak kepolisian Taif di sebuah acara undangan pernikahan dan langsung dibawa ke kantor polisi. Kami lansung meluncur ke sana (kantor polisi),” tutur Hertanto, Staf Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah.

Juariah akhirnya dibawa Tim Perlindungan dan kini ditempatkan di Rumah Persinggahan Sementara di KJRI Jeddah.

Selama menghilang, ia mengaku baik-baik saja dan diperlakukan baik oleh majikannya.

Ia merasa betah bersama majikan dan keluarga majikan, dan ia mengaku semua hak-haknya dipenuhi.

Lantas, apa yang membuatnya lupa diri dan tak mengabari keluarganya selama 19 tahun?

Ia pun menjawab kalau perlakukan majikan dan keluarganya yang begitu baik membuatnya lupa menghubungi keluarganya sendiri.

“Gaji lancar tiap bulan 600 (riyal). Saya simpan di kamar. Pekerjaan tidak berat. Saya cuma bersih-bersih rumah dan nyuci baju. Keluarga majikan ada tujuh di rumah. Saya kerja tidak kaya pembantu. Kalau ada makan-makan besar (pesta), kerja semua. Kalau saya capek, saya tidur dan enggak dibangunin biar 24 jam” tuturnya kepada Tim Perlindungan.

Loading...

Juariah bahkan menyatakan ikhlas tidak minta naik gaji kepada majikan karena dirinya telah diperlakukan begitu baik oleh majikan, sementara di luar sana ia banyak mendengar cerita tentang TKI yang tidak seberuntung dirinya.

Untuk mengabarkan kepada pihak keluarga, Konjen RI Jeddah, M. hery Saripudin bersama Juariah melakukan video call dengan orang tuanya pada Selasa, 3 Januari 2017 lalu.

tki3

Didampingi Pelaksana Fungsi Konsuler-1 yang merangkap Koordinator Perlindungan Warga, Dicky Yunus, dan Staf Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah, Hertanto Setyo, Konjen RI Jeddah, meyakinkan Juariah agar pulang ke kempung halaman dan kembali ke tengah keluarga yang telah lama merindukan kepulangan dirinya.

“Kasian bapak-ibu kamu di rumah, saudara-saudarmu. Mereka sudah lama mencari-cari kabar tentang keberadaan kamu, menanyakan ke sana kemari kesehatan dan keselamatan kamu. Semua orang dibuat gelisah. Pulang saja ya,” bujuk Konjen kepada Juariah yang dijawabnya dengan anggukan.

KJRI Jeddah, masih mengurus hak-hak Juariah selama bekerja dengan majikannya.

Setelah semua haknya dipenuhi, langkah selanjutnya adalah pengurusan dokumen perjalanan Juariah yang membutuhkan waktu, mengingat statusnya kini adalah overstayer karena ia tidak pernah melakukan pembaharuan masa berlaku dokumen paspor dan izin tinggal (iqamah).

Menurut catatan, masa berlaku paspor Juariah berakhir pada tanggal 19 Desember 1999, dan sejak kedatangannya di Arab Saudi 1997, ia tidak pernah melakukan penggantian paspor, demikian pula iqamahnya selama bekerja dengan keluarga majikan.

Selain itu, ditemukan pula pemalsuan data dirinya.

Di paspornya, Juariah kelahiran tanggal 25 Mei 1967, sementara di KTP tertera ia kelahiran tanggal 25 bulan Mei 1977.

Juariah dinyatakan hilang kontak sekitar 19 tahun silam sejak dirinya berangkat ke Arab Saudi pada tahun 1997 untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan hanya sekali berkirim surat kepada pihak keluarga.

Setelah itu, ia tka pernah lagi mengabari keluarga di kampung halaman.

Sumber: tribunnews.com


loading...
Loading...