3 Santri Muda Indonesia akan Jadi Imam Tarawih di Korsel

loading...

d1ee71f1-f0d3-4a76-9424-4de55c3d8294

 

Tiga santri muda Indonesia akan menjadi imam salat tarawih di Korea Selatan. Hal ini memenuhi permintaan dari komunitas muslim di sana.

Tiga santri muda itu berasal dari Pondok Pesantren Daarul Qur’an, yang didirikan Ustaz Yusuf Mansur, yakni Jawwad Muyassar (18), Hikman Faqih (18), dan Luthfi Nur Agusti (18). Mereka akan bertolak ke Korea Selatan pada Sabtu (17/6/2017) sore.

“Sewaktu Ustaz Yusuf Mansur berkunjung ke Korea Selatan, ada permintaan dari komunitas muslim di sana untuk mengirimkan santri yang akan bertugas menjadi imam saat salat tarawih nanti,” ujar pengasuh Ponpes Daarul Qur’an Ustaz Slamet Ibnu Syam dalam keterangan tertulis dari PPPA Darul Qur’an yang diterima pada Sabtu (17/6).

Ustaz Slamet menambahkan tiga santri ini dibutuhkan kehadirannya sejak awal Ramadan lalu. Namun proses pengurusan visa yang membutuhkan waktu membuat ketiganya baru bisa berangkat pada sepertiga Ramadan ini. Ketiga santri ini dipilih berdasarkan kualitas dan loyalitas mereka saat di pesantren.

Sementara itu, Jawwad Muyassar mengaku terkejut saat diberi tahu Ustaz Slamet perihal rencana kepergiannya ke Negeri Ginseng tersebut. Ia mengaku sempat tidak percaya.

“Jadi waktu itu jelang salat isya dan Ustaz Slamet memberi tahu kami. Saat itu saya masih nggak percaya dan serasa boongan. Eh, pas diminta foto untuk paspor, baru deh percaya,” ujar santri asal Bekasi ini.

Sedangkan Faqih mengaku senang atas terpilihnya ia menjadi salah satu santri yang akan berangkat ke Korea Selatan. Meski, ia sendiri mengaku gugup akan perjalanan ini.

Loading...

“Jujur, saya senang. Meski gitu, ada rasa gugup juga dengan apa yang akan terjadi di sana nanti. Tapi saya terus berdoa dan berusaha menyiapkan diri dengan baik,” ujarnya.

Ketiganya pun mempersiapkan diri dengan serius. Dari mulai muraja’ah hafalan, persiapan mental, hingga mempersiapkan makanan yang akan dibawa.

“Lewat internet, kami melihat-lihat keadaan di sana. Kami mau tahu soal budaya dan kebiasaan di sana agar tidak kaget nanti,” ujar Lutfhi.

“Kami juga membawa mi instan dan tempe orek buat di sana nanti,” tuturnya.

Ketiganya juga mengaku sudah siap merayakan Idul Fitri jauh di negeri orang dan jauh dari keluarga. Mereka akan memanfaatkan teknologi untuk mengatasi hal tersebut.

“Sedih pastinya. Tapi mengingat tujuan kita berdakwah dan orang tua sudah meridhoi, insyaallah kita akan mudah jalani. Dan jika kangen, tinggal melakukan video call saja,” tutur Jawad.

Ketua Daarul Qur’an Bidang Pendidikan Ustaz Ahmad Jamil berharap ketiganya bisa mengaplikasikan apa yang didapat di dunia pesantren selama ini. Dan semoga keberangkatan ketiganya dapat memotivasi santri lain untuk meningkatkan kualitas mereka.

“Kami segenap pimpinan Daarul Qur’an pastinya merasa bangga dengan keberangkatan ketiga ini dan semoga ketiganya bisa menjalankan tugas dengan baik,” ucap Ustaz Ahmad Jamil.

loading...
Loading...